Di sebuah daerah yang tenang di Muara Bungo, sekitar sepuluh kilometer dari bandara, berdirilah sebuah pesantren yang setiap hari menjadi saksi lahirnya generasi Qur’ani. Namanya Pondok Pesantren Baitul Qur’an — sebuah tempat sederhana yang menyimpan mimpi besar bagi anak-anak bangsa.
Setiap pagi, bahkan sebelum matahari menyapa bumi, para santri sudah terjaga.
Pukul 03.00 dini hari, mereka bangun untuk tahajjud, lalu melanjutkan dengan tahfizh Al-Qur’an. Suara lirih lantunan ayat suci memenuhi udara, menjadi saksi kesungguhan mereka menghafal kalam Allah sejak usia belia.
Di pesantren ini, anak-anak tak hanya dibimbing untuk menghafal Qur’an, tetapi juga dibentuk akhlaknya. Para ustadz dan ustadzah — lulusan pesantren dan perguruan tinggi Islam — membimbing mereka dengan penuh kesabaran. Bagi mereka, mengajar bukan sekadar profesi, tetapi amanah dan ibadah yang mereka jalani sepenuh hati.
Di sela-sela pelajaran formal, para santri belajar bahasa Arab, bahasa Inggris, dan mengikuti mentoring yang menguatkan karakter. Setiap hari mereka berlatih disiplin, belajar hidup sederhana, dan menumbuhkan kemandirian yang kelak menjadi bekal saat dewasa.
Di balik seluruh aktivitas itu, ada sebuah visi besar:
mewujudkan lembaga pendidikan Islam yang berkualitas dan melahirkan generasi Qur’ani yang berakhlak mulia.
Karena itulah, setiap jadwal harian, setiap salam pagi, setiap hafalan yang diulang-ulang, semuanya adalah bagian dari perjalanan panjang menuju mimpi besar tersebut.
Bagi sebagian orang, Baitul Qur’an mungkin hanyalah satu dari sekian banyak pesantren di Indonesia.
Namun bagi santri-santri kecil yang sedang menghafal ayat pertama mereka, bagi orang tua yang memimpikan anaknya menjadi hamba yang saleh, dan bagi para ustadz yang mencurahkan hidupnya untuk mendidik, tempat ini adalah rumah harapan. Rumah yang setiap hari membentuk masa depan.